Psikolog dari University
of Washington, peneliti pernikahan dan parenting Dr John Gottman
mengatakan dua dari tiga pasangan suami istri (pasutri) mengalami
masalah dalam hubungannya, pada tiga tahun pertama sejak kelahiran bayi
mereka.
Fakta ini memang mengkhawatirkan, namun bukan berarti tak
bisa ditangani dengan tepat atau bahkan dicegah. Dengan memahami empat
jebakan hubungan yang umum didapati pada pasutri ini, Anda bisa mencegah
berbagai masalah yang ditimbulkannya.
1. Kurang waktu tidur. Kehadiran
bayi membuat Anda dan pasangan kurang tidur, dan ini menciptakan
ketegangan. Anda dan pasangan cenderung lebih emosional, dan kurang
kontrol diri. Alhasil, ini berdampak pada hubungan berpasangan. Namun
bukan berarti hubungan Anda buruk. Kondisi ini terjadi lebih karena Anda
dan pasangan merasa kelelahan menghadapi masa transisi menjadi orangtua
baru.
Untuk mengatasinya, buatlah perencanaan yang baik bagi
Anda dan pasangan mengenai waktu istirahat. Selain juga tumbuhkan
pengertian yang tinggi, bersikaplah saling memaafkan jika pasangan mulai
uring-uringan.
2. Fokus kepada bayi. Ibu yang
baru saja melahirkan, akan fokus memerhatikan berbagai kebutuhan
bayinya. Ia cenderung mengambil semua tanggung jawab pengasuhan ini.
Nah, Ayah yang tidak melahirkan cenderung tidak mendapatkan kesempatan
yang sama besar untuk bertanggung jawab atas pengasuhan bayi.
Hal ini menyebabkan sang ayah kehilangan momen menumbuhkan bonding bersama
bayi. Ia pun merasa ditinggalkan. Ada masanya ketika baik ayah maupun
ibu menjadi merasa kesepian, karena pengasuhan bayi hanya menjadi
tanggung jawab penuh salah satu pihak saja.
Nah, untuk
menghindari hal ini, sebelum membawa pulang bayi dari rumah sakit,
buatlah perencanaan mengenai pembagian tanggung jawab ibu dan ayah dalam
mengasuh dan merawat bayi.
3. Pudarnya hasrat seks. Banyak
ibu yang merasa tak nyaman dan bersalah pascamelahirkan karena mulai
kehilangan dorongan seksual. Sementara pasangannya merasa tak berhasrat
dengannya. Pada akhirnya kedua belah pihak saling mempertanyakan masalah
ketertarikan fisik.
Bagi ibu pascamelahirkan, kehilangan hasrat
seks merupakan hal normal. Karenanya dibutuhkan komunikasi dengan
pasangan, mengenai perasaan Anda dan sejauhmana kesiapan Anda untuk
memulai kembali intimasi.
4. Perubahan peran.
Kehadiran bayi membawa peran baru bagi pasangan suami istri. Ketika
suami atau istri fokus hanya pada perannya sebagai ayah atau ibu, mereka
cenderung tak melihat usaha atau peran yang sudah dilakukan
pasangannya. Meski ayah atau ibu telah berupaya keras menjalani
perannya, keduanya merasa tak dihargai pasangan.
Untuk mengatasi
masalah seperti ini, bangunlah komunikasi dengan pasangan. Beritahukan
pasangan Anda bahwa ia telah melakukan banyak peran yang berdampak
positif terhadapnya atau hubungan. Lakukan komunikasi ini setiap hari,
sehingga tercipta pola kerjasama yang baik dan memudahkan Anda dan
pasangan menjalani peran baru sebagai orangtua.
KOMPAS.com -
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment