Kala melakukan permainan yang membutuhkan
aktivitas fisik dan tantangan seperti melompat, berlari, dan memanjat,
anak lebih memilih bersama ayah. Namun ketika mengantuk dan ingin tidur,
si batita lebih memilih bersama ibunya.
Penelitian yang
dilakukan Lamb dan Roopnarine, psikolog dan penulis buku dari University
of Utah Salt Lake Amerika Serikat pada akhir 1970-an, terhadap
aktivitas anak bersama ayah atau ibunya menyimpulkan, ayah dan ibu
mengambil peran berbeda saat berinteraksi dengan anak.
Ayah
memiliki kecenderungan melibatkan aktivitas fisik yang lebih "menantang"
dibandingkan ibu. Ayah kerap mengajak anak bergulat, mengayun,
melompat, berlari, dan lainnya.
Sementara ibu lebih ke arah
permainan yang membutuhkan perasaan, seperti bermain boneka, membaca
buku dongeng, atau permainan yang tak butuh aktivitas fisik berlebih,
juga ketika anak ingin tidur.
Dengan karakter anak usia ini yang
aktif, tak bisa diam, daya eksplorasi yang kuat, membuatnya lebih senang
bermain dengan ayah. Apalagi dalam berinteraksi, ayah umumnya lebih
inisiatif dan kreatif.
Ketika berperan menjadi harimau, ayah
berusaha atraktif, seperti merangkak dan mengaum. Gaya permainan seperti
ini sangat disukai batita. Tak hanya itu, ketika bermain pun ayah suka
"berisik" sendiri seperti mengetuk-ngetuk toples untuk menciptakan
bebunyian, bertepuk tangan sambil melompat, mengubah ekspresi wajah, dan
lainnya. Perilaku ini akan membuat emosi anak teraduk-aduk sehingga ia
ketagihan bermain bersama ayahnya lagi.
Ross Parke, PhD, profesor
psikologi dari University of Illinois at Urbana Champaign, Amerika
Serikat juga melakukan penelitian terhadap aktivitas ayah dengan anaknya
sejak bayi.
Hasilnya, ayah sudah melakukan aktivitas bermain
lebih aktif secara fisik, dan tak terduga, seperti menggelitik si kecil.
Ketika melihat ayahnya datang, bayi akan menggerak-gerakkan tangan dan
kakinya seakan ingin mengajak bermain. Sementara ketika ibu mendekat,
mata bayi terpejam dan detak jantungnya pun tenang teratur, sepertinya
ia minta disusui, dipeluk dan tidur di dekat ibu.
Berbagi tugas
Peran
ayah dan ibu, entah dalam bermain, tidur, atau yang lainnya sangat
diperlukan. Keduanya memberikan manfaat yang saling melengkapi sehingga
akan mendukung pertumbuhan fisik dan psikis anak secara optimal.
Apalagi, baik tanggung jawab maupun peran ayah dan ibu, sesungguhnya
sama, salah satunya adalah sama-sama harus memberikan stimulasi
perkembangan anak.
Meski dalam penelitian kecenderungan anak
ingin tidur bersama ibu dan bermain bersama ayah, sebaiknya tidak
membuat orangtua saling lempar tanggung jawab. Bisa saja dalam
kesempatan tertentu kecenderungan ini ditukar, ayah menemani anak tidur,
dan ibu menemani anak bermain,
Tujuan utamanya adalah
memberikan stimulasi yang optimal, baik untuk mengembangkan otak kiri
anak dan otak kanan, sehingga keduanya bekerja lebih baik. Efeknya,
kecerdasan anak, baik emosi maupun intelektual akan berkembang optimal.
Ohio
State University pernah melakukan penelitian terhadap 112 pasangan yang
memiliki anak balita dan mereka dimintai mengisi kuesioner.
Pertanyaan
pada kuisioner tersebut adalah seberapa sering mereka bermain dengan
anak-anak dan seberapa sering mereka terlibat dalam proses mengurusi
anak-anak. Kemudian, setiap pasangan diminta menggambar keluarga dan
merangkai permainan menjadi rumah sambil diobservasi selama 20 menit
oleh peneliti.
Hasil observasi menemukan, ayah yang mempunyai
waktu cukup untuk bermain bersama anaknya, maka pasangannya akan semakin
rukun dan saling mendukung sebagai orangtua. Begitu pula sebaliknya.
Namun,
pada ayah yang yang ikut mengurus anak, seperti memandikan atau
memakaikan baju anak, ternyata pasangannya cenderung kurang men-support.
Mungkin karena apa yang dilakukan ayah tidak cukup baik menurut ibu.
Hal ini memang cukup mengejutkan, tetapi juga menunjukkan bahwa peran
ayah dan ibu perlu dibagi sehingga saling mendukung satu sama lain.
Namun demikian, ayah tetap bisa mendukung untuk membantu mengurus anak, dan ibu tetap bisa mendukung ayah mengajak bermain.
KOMPAS.com -
0 comments:
Post a Comment